Menag Nasaruddin Umar Tutup Kunjungan di Bengkulu dengan Khotbah Jumat Penuh Refleksi di Masjid Agung At-Taqwa

Nasaruddin Umar Menteri Agama Republik Indonesia

Bengkulu   — Rangkaian kunjungan kerja Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, di Bengkulu ditutup dengan suasana khusyuk melalui pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Agung At-Taqwa, Jumat (24/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama bertindak sebagai imam sekaligus khatib di hadapan jamaah yang memadati masjid. Khotbah yang disampaikan tidak sekadar normatif, tetapi menghadirkan refleksi mendalam melalui kisah klasik dalam sejarah Islam, yakni peristiwa pergantian mimbar Rasulullah SAW.

Menag mengisahkan, saat Rasulullah beralih dari batang kurma yang biasa digunakan sebagai tempat bersandar saat khutbah ke mimbar baru, para sahabat dikejutkan oleh suara tangisan dari batang kurma tersebut. Peristiwa ini, menurutnya, bukan sekadar kisah, melainkan pelajaran spiritual yang relevan hingga saat ini.

“Ada nilai penting yang bisa kita ambil. Nabi menghargai sesuatu yang berjasa, bahkan kepada benda sekalipun,” ujarnya.

Dari kisah tersebut, Menag menekankan bahwa Islam mengajarkan penghormatan tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada apa pun yang memiliki nilai dan peran dalam kehidupan. Sikap menghargai, menurutnya, merupakan bagian dari akhlak yang harus terus dijaga.

Lebih jauh, ia mengajak jamaah untuk melihat alam semesta dengan perspektif keimanan. Dalam pandangannya, tidak ada yang benar-benar “mati” di dunia ini, karena seluruh ciptaan Tuhan pada hakikatnya bertasbih.

“Semua bertasbih kepada Allah. Tidak ada benda mati. Kita saja yang tidak mampu mendengarnya,” katanya.

Ia juga menyinggung kisah pasir yang pernah bertasbih di tangan Rasulullah sebagai ilustrasi bahwa alam memiliki dimensi spiritual yang sering kali luput dari kesadaran manusia.

Dalam bagian lain khotbahnya, Menag mengaitkan pesan tersebut dengan pendekatan ilmiah modern. Ia menyebut hasil penelitian yang menunjukkan bahwa air dapat merespons kata-kata atau doa yang diberikan kepadanya.

“Air yang didoakan dengan baik membentuk kristal yang indah. Sebaliknya, jika diberikan kata-kata buruk, bentuknya menjadi tidak beraturan,” ujarnya.

Melalui contoh tersebut, Menag mengajak jamaah untuk lebih berhati-hati dalam bersikap, berkata, dan memperlakukan lingkungan sekitar. Menurutnya, relasi manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai spiritual.

Khotbah Jumat tersebut menjadi penutup yang reflektif dalam rangkaian kunjungan kerja Menteri Agama di Bengkulu, dengan menghubungkan ajaran agama, sejarah kenabian, dan kesadaran ekologis dalam satu pesan utuh: bahwa iman tidak hanya tercermin dalam ibadah, tetapi juga dalam cara manusia memperlakukan sesama dan alam semesta.

Category