Bengkulu – Kemarahan nelayan Pantai Malabero akhirnya meledak. Penyitaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar oleh Polda Bengkulu serta penangkapan dua warga memicu gelombang protes besar di kawasan pesisir, Jumat (08/05/2026).
Aksi nelayan pecah setelah aparat kepolisian disebut tiba-tiba mengangkut solar yang biasa digunakan nelayan untuk melaut. Tidak hanya itu, dua warga juga ikut diamankan dalam operasi yang berlangsung Kamis (07/05/2026) tersebut.
Dampaknya langsung terasa. Aktivitas melaut lumpuh total. Kapal-kapal nelayan terpaksa bersandar karena tidak memiliki pasokan bahan bakar.
“Kami tidak bisa melaut. Nelayan hari ini kehilangan mata pencarian gara-gara solar disita dan dua warga kami dibawa,” tegas Koordinator Lapangan aksi, Ujang Joker, kepada wartawan.
Pantai Malabero pun berubah tegang. Massa nelayan berkumpul sambil menyuarakan tuntutan keras agar solar segera dikembalikan dan dua warga yang diamankan dibebaskan.
Menurut Ujang, solar yang disita bukan untuk aktivitas ilegal, melainkan stok kebutuhan nelayan yang sedang dipindahkan ke warung nelayan di kawasan pesisir.
“Warung nelayan itu sudah ada sejak lama. Solar itu untuk kebutuhan melaut, bukan untuk hal lain,” ujarnya.
Nelayan menilai tindakan aparat justru memukul masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari hasil laut setiap hari.
“Kami menuntut minyak dikembalikan ke nelayan dan dua warga kami dibebaskan. Secara prosedur minyak itu tidak menyalahi aturan,” tambah Ujang dengan nada geram.
Hingga berita ini diterbitkan, Aparat kepolisian belum memberikan penjelasan resmi terkait dasar penyitaan BBM maupun penangkapan dua warga tersebut.
Sementara itu, keresahan terus meluas di kalangan nelayan. Mereka mengaku tidak hanya kehilangan penghasilan harian, tetapi juga merasa aktivitas tradisional nelayan kini berada dalam kegelisahan.
- Log in to post comments





